Penulis: Bongso Temmar (Icibong)
Jakarta 11 Febuari 2026
Di panggung MTN WAVE, di ruang Teater Besar Taman Ismail Marzuki, saya berdiri dengan satu kesadaran sederhana:
manusia hidup di antara asal dan akhir.
Di antara tanah yang melahirkannya dan tanah yang kelak menerimanya kembali.
Saya memilih melantunkan Mantra dalam bahasa Ambon Melayu
karena saya percaya bahasa adalah bentuk paling awal dari keberadaan.
Sebelum nama dikenal, sebelum panggung diberikan, seseorang telah lebih dulu menjadi dirinya melalui bahasa yang ia warisi.
Bahasa bukan alat; ia adalah ontologi cara kita ada di dunia.
Panggung nasional sering dianggap pusat legitimasi, seolah-olah pengakuan menentukan nilai.
Namun nilai tidak lahir dari sorot lampu.
Ia lahir dari kesetiaan pada akar.
Timur bagi saya bukan geografis;
ia adalah cara memandang hidup: bahwa sumpah harus dijaga, bahwa kata bukan mainan, bahwa suara adalah tanggung jawab.
Menjadi bagian dari talent nasional bukan berarti naik tingkat eksistensi.
Itu hanya memperluas ruang gema.
Yang terpenting adalah tetap utuh.
Pada akhirnya, manusia fana.
Tubuh selesai.
Tepuk tangan berhenti.
Tetapi kata yang ditulis dengan kesadaran bisa melampaui usia penulisnya.
Maka saya memilih satu jalan yang sunyi namun pasti: terus menulis. sampai ada yang menulis namaku, meskipun hanya di batu nisan.
Mese o
