Selasastra Malam Ini: Ketika Sedikit Orang Menjadi Banyak Makna
Malam ini Selasastra tidak dipenuhi keramaian. Tidak ada lautan manusia, tidak ada tepuk tangan yang gaduh, tidak ada barisan kursi yang sesak. Hanya beberapa orang. Tetapi justru di zaman ketika segala sesuatu diukur dari jumlah, malam ini membuktikan bahwa makna tidak pernah tunduk pada statistik. Yang sedikit belum tentu kecil. Yang sepi belum tentu mati. Kadang-kadang, justru dari ruang yang lengang, suara paling jujur dilahirkan.
Di antara yang hadir, ada yang nyaris kehilangan fokus, bukan karena bodoh, melainkan karena dunia terlalu bising. Ia membersihkan buku, menyiapkannya untuk dibaca, meski tak selalu sempat menuntaskan halaman. Bukankah itu juga bentuk cinta? Sebab di kota yang terus berlari, menyentuh buku saja sudah menjadi perlawanan. Kita hidup di masa ketika manusia lebih sering menggulir layar daripada membuka lembar. Maka orang yang masih menata buku sesungguhnya sedang menata kembali dirinya.
Kawan kami yang lain menjadikan membaca sebagai ritual sebelum tidur. Sederhana, namun langka. Di kota yang katanya maju, manusia lebih akrab dengan cahaya gawai daripada lampu baca. Kemajuan ternyata sering hanya memoles gedung, tetapi lupa membangun batin. Kita punya jalan raya, tetapi kehilangan jalan pulang ke pikiran sendiri.
Lalu ada yang menulis puisi seperti makan tiga kali sehari. Baginya kata-kata adalah nasi bagi jiwa. Puisi Seperlima Jalan Pulang bukan sekadar susunan larik, melainkan kesaksian zaman:
Pada mulanya roh Allah melayang-layang,
dan waktu terasa lebih berat,
angin dan metamorfosis tak menemukan rupanya.
Manusia merangkak dari dalam tanah,
menyenderkan dada dan bahu pada kulit kayu.
Apabila rindu bisa berkaca,
di manakah ia dan letaknya?
kepada rindu yang tersesat,
cepat-cepatlah menemukan jalan pulang.
sebab, setelah melalang buana selama seperlima abad mengejar cinta,
satu-satunya hal yang dapat dipeluk perindu
adalah agama.
Puisi itu bukan sekadar kata, melainkan cermin. Setelah dunia diperas habis-habisan, manusia kadang baru sadar bahwa yang paling dicari bukan kemenangan, melainkan tempat bersandar. Bukan tepuk tangan, melainkan pengampunan. Bukan keramaian, melainkan damai.
Kawan kami yang lain sedang sibuk mengurus ijazah, dan itu penting. Namun malam ini kita diingatkan bahwa ijazah hanyalah bukti seseorang pernah sekolah, bukan bukti ia pernah berpikir. Banyak dinding penuh sertifikat, tetapi kepala kosong pertanyaan. Banyak gelar panjang, tetapi nurani pendek. Pendidikan yang gagal melahirkan kepekaan hanya akan mencetak manusia rapi yang tidak mengerti sesama.
Kawan kami yang lain membicarakan kematian dengan lugas: bahwa setelah semuanya selesai, mungkin yang tersisa hanya sebungkus rokok dan sepasang sandal. Betapa telanjang kenyataan itu. Kita sibuk mengumpulkan nama, benda, citra, dan pujian, tetapi maut sering datang sebagai editor paling kejam: menghapus semua kalimat berlebihan dan menyisakan inti paling sederhana.
Kawan kami yang lain memilih terus menulis karena percaya tidak ada kata terlambat. Dan benar, terlambat hanya milik mereka yang menyerah. Selama napas masih tinggal, manusia selalu punya kesempatan memulai ulang. Menulis adalah cara menolak mati sebelum waktunya.
Kawan kami yang lain bertahan lewat musik, menjadikan lagu sebagai perban bagi hari-hari yang luka. Lagu rohani, misalnya, bukan sekadar nada, melainkan ruang tunggu bagi jiwa yang letih. Kadang manusia tidak butuh jawaban; ia hanya butuh irama agar tidak runtuh.
Dan di sudut lain, ada perempuan membaca buku di bawah bendera revolusi. Sebuah gambar yang tajam: perempuan yang menenun lukanya sendiri sambil mencari inti tulisan. Barangkali revolusi terbesar memang bukan di jalanan, tetapi di kepala yang tercerahkan dan hati yang berani sembuh.
Maka Selasastra malam ini bukan acara kecil. Ia adalah cermin zaman. Ketika banyak orang sibuk tampil, beberapa orang memilih hadir. Ketika dunia mengejar viral, beberapa orang masih mengejar makna. Ketika kota dipenuhi bangunan, beberapa jiwa masih berusaha membangun batin.
Jika ada yang bertanya apa hasil dari pertemuan ini, jawabannya sederhana: harapan. Sebab selama masih ada orang yang membaca, menulis, mendengar, bertanya, dan berbagi cerita, maka dunia belum sepenuhnya kalah.
Malam ini sedikit orang berkumpul, tetapi barangkali justru sedang menyelamatkan banyak hal.
BongsoTemmar
21 April 2026